Hukuman Mati Bagi Mafia Narkoba Harus Konsisten

 

 

Keshetrabbis.org – Untuk melawan adanya penggunaan serta peredaran narkoba pemerintah Indonesia menjadikan hukuman mati sebagai senjata yang diandalkan. Meskipun demikian, hukuman tersebut rupanya belum bisa memberikan kejeraan kepada para pelaku penyelundupan barang haram tersebut.

Karena, masih ada sejumlah orang yang masih melakukan penyelundupan. Sepertinya ancaman hukuman mati yang terdapat pada undang-undang di Indonesia dinilai belum cukup membuat para bandar narkoba untuk jera.

Kepala Bagian Humas Badan Narkotika Nasional (BNN) Sulistiandriatmoko mengungkapkan bahwa para pelaku mafia memakai finansial supaya lebih leluasa dalam melakukan pergerakan jaringan narkoba hingga dalam lapas sekalipun.

“Mereka—pelaku narkoba—akan terus melancarkan kekuatan finansialnya mulai dari penangkapan, penyidikan, jaksa, pengadilan bahkan sampai di lapas sekalipun. Terpenting, agar mereka bisa terus mengerakan jaringanya walaupun di dalam jeruji besi sekalipun,” kata Sulistiandriatmoko.

Dua juga mengatakan, berdasarkan sumber BNN diantara salah satu jaringan sindikat narkoba mempunyai transaksi senilai hingga 17 triliun dalam satu tahun.

“Nilai transaksi itu sangat fantastis, maka dari itu mereka mempunyai kekuatan financial untuk mempengaruhi siapapun,” katanya.

Sulistiandriatmoko mencontohkan salah satu tahanan Nusakambangan yang telah divonis hukuman mati masih dapat menggerakan jaringan narkoba Internasional untuk mengirimkan 1,2 juta pil ekstasi dari Belanda. Tidak hanya itu, Fredy Budiman dapat memobilisasi jaringannya meskipun telah ditahan serta divonis hukuman mati.

“Berkaca dari kasus sebelumnya, kita harus mengubah sistem dari awal agar pergerakan mereka di lapas tidak bisa dikendalikan lagi,” tambahnya.

Dan terkait hukuman mati, bahwa pemerintah harus konstan dengan hukuman tersebut. Dan untuk informasi, pada tahun 2014 sekitar 12 ribu jiwa meninggal dikarenakan narkoba dan setiap harinya setidaknya 30 hingga 40 jiwa meninggal.

“Hukuman mati itu harus konsisten. Bayangkan dengan angka jiwa yang meninggal itu berarti pembunuhan massal,” kata Sulistiandriatmoko.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *